27 Feb

Media Sebagai Senjata Ajak Warga Membuang Sampah

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa, begitu kata pepatah yang biasa didengar di telinga kita. Terkait dengan keseharian masyarakat, sampah mungkin menjadi masalah pelik yang terjadi sebagai dampak dari “pepatah” tersebut. Akibat kelalaian manusia yang sederhana namun dilakukan berulang-ulang, bukan tidak mungkin jika sampah berpotensi menjadi musuh lingkungan.

Sadar dengan keadaan lingkungan yang semakin tercemar akibat sampah, membuat Pos Indonesia menggagas sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang membahas problematika sampah dan ide-ide baru seputar penanggulangan sampah. Sebagai informasi, FGD yang diadakan di Graha Pos Indonesia pada Senin 27 Februari ini masih termasuk dalam rangkaian Pos Indonesia Bergerak 2017. Acara ini turut mengundang petinggi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, PD Kebersihan, beberapa pakar di bidang media, serta para aktivis kebersihan dan insan-insan kreatif Bandung.

Menyinggung sampah sebagai tema besar, terdapat berbagai subtema yang dibahas dalam diskusi tersebut. Salah satu yang mendapat perhatian adalah sampah dari sisi media, yang sukses menjadi salah satu poin menarik pada hari itu. Masalah ini mengarah pada sebuah pertanyaan besar, karena media merupakan salah satu ujung tombak sosialisasi peduli sampah kepada masyarakat.

Dijelaskan oleh Rahim Asyik, Pimpinan Redaksi Pikiran Rakyat, bahwa media saat ini cenderung hanya membagikan informasi terkait sampah dan masalah lingkungan lainnya, tanpa mempunyai keinginan untuk ambil bagian dalam penyelesaian masalah tersebut. “Jurnalisme sejak dulu memang didasari oleh ideologi bad news is good news. Tetapi lama kelamaan saya berpikir, mengapa tidak merubah pola pikir tersebut menjadi good news is good news? Media harus bisa menjadi yang terdepan dalam membagikan hal baik untuk masyarakat sekaligus turut serta dalam pelaksanaannya.” ujar Bapak Rahim yang turut menjadi pembicara dalam forum diskusi tersebut.

Saat ini Indonesia telah berada di titik awal tahun 2017, yang berarti tak lama lagi waktu negara ini untuk menjawab tantangan Indonesia Bebas Sampah 2020. Sadar akan hal itu, media menjadi salah satu senjata yang gencar digalakkan demi terwujudnya misi tersebut. Seluruh peserta diskusi setuju bahwa media mempunyai kemampuan membangun informasi tentang suatu ide, sehingga akan sangat bermanfaat sekali jika media ikut andil dalam misi mengurangi sampah ini.

Banyak masukan yang muncul selama diskusi, diantaranya adalah berkolaborasi dengan pakar visual dalam menciptakan budaya “keren” untuk sampah. Terkait dengan ide ini, Andi Abdul Qodir sebagai anggota komunitas Sayang Bandung pun sempat menceritakan pengalaman kreatif mereka mengajak warga Bandung untuk lebih peduli terhadap sampah, yang tidak mampu dilanjutkan karena keterbatasan dana. Menurut mereka, akan lebih baik jika media terlibat lebih banyak bukan hanya sebagai penyebar informasi, agar ide tersebut berjalan lebih efektif.

Sebagai praktisi media di bidang komunikasi visual, mereka juga mengkritisi gaya komunikasi ajakan pemerintah kota yang tersedia di ruang publik. Memang terasa disayangkan mengingat minat baca generasi saat ini sangat kurang, tetapi bukan berarti tidak bisa disiasati. “Mengajak masyarakat sekarang untuk membuang sampah memang perlu pesan menarik dengan pendekatan yang tidak standar.” Ujar Qodir.

Menjawab pendapat-pendapat tersebut, Direktur Umum PD Kebersihan Kota Bandung Gungun Saptari Hidayat menanggapi dengan beberapa ide. Terkait dengan media sebagai pencipta efek jera di masyarakat, beliau mengatakan bahwa mulai Maret 2017 mendatang PD Kebersihan telah bekerjasama dengan Satpol PP untuk menindak tegas pembuang sampah sembarangan sesuai peraturan yang berlaku. “Jadi, buat orang yang suka buang sampah di jalanan, waspadalah,” ujar Bapak Gungun yang disambut tawa seisi ruangan.

Secara umum, forum diskusi berjalan lancar dan dua arah. Terlepas dari itu semua, harapan yang tersirat dari diskusi ini adalah seluruh warga di nusantara bisa bekerjasama dalam pengelolaan sampah, tanpa media, tanpa paksaan, demi kecintaan terhadap bumi Indonesia.