29 Mar

Olah Sampah dengan Konsep Zero Waste, Kebiasaan Mudah Berdampak Megah

Manusia memang makhluk yang gemar berinovasi. Berbagai ide diciptakan demi kenyamanan mereka dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari. Jika dulu kita berpindah tempat dengan alat sederhana seperti sepeda, perahu, bahkan berjalan kaki, sekarang sudah ada mobil dan sepeda motor yang setia mengantar kita kemana saja. Ketika orang tua kita hanya mendengarkan radio di sela waktu senggangnya, kita bisa mendapat informasi sekaligus hiburan melalui media internet.

Begitu pula dengan sampah. Tanpa disadari, hasil dari sisa pembuangan ini juga ikut ‘berkembang’. Jika dulu sampah didominasi oleh bahan organik yang mudah didaur ulang, di masa modern yang mengandalkan sesuatu yang serba praktis ini sebagian besar sampah adalah bahan-bahan buatan seperti plastik dan styrofoam. Ditambah dengan minimnya pengetahuan masyarakat tentang sampah, praktis membuat seonggok sampah yang tidak pada tempatnya menjadi hal yang wajar. Tentu ini bukan hal yang patut dibanggakan, mengingat kebiasaan ini kerap mengundang bencana.

Bukan hal baru jika berbicara tentang fenomena masyakarat yang akhirnya menyadari pentingnya membuang sampah, salah satunya adalah dengan gaya hidup zero waste. Seperti yang kita tahu, zero waste adalah konsep hidup tanpa memproduksi sampah, atau setidaknya menghasilkan sampah sesedikit mungkin. Hal ini dipicu oleh kehidupan manusia di masa modern yang cenderung mengeksplorasi bumi hingga ribuan meter di bawah laut, sehingga menghasilkan bermacam bahan plastik seperti pipa pvc, baterai, asbes, kaca, hingga sampah kimia berbahaya. Jika pembuangannya tidak ditangani dengan baik, keberadaan benda-benda tersebut bisa mengancam kesehatan manusia. Selain dampak kasat mata berupa timbulnya banjir, zat-zat yang terkandung dalam sampah anorganik beresiko menularkan bermacam penyakit.

Nyatanya, gaya hidup zero waste mendapat tempat di hati seluruh lapisan masyarakat. Dari generasi senior, kabar terbaru dari Pemkab Karanganyar yang menargetkan penurunan volume sampah ke TPA sebesar 80% hingga April 2017 mendatang. Dilansir dari situs Harian Jogja, pemerintah setempat memusatkan penerapan zero waste di lingkungan kabupaten, dengan memilah sampah secara selektif sebelum benar-benar sampai di TPA. Konsep ini mendapat apresiasi positif dari Bupati dan sedang menjalani uji coba di TPS Bolon, Colomadu.

Tak hanya itu, antusiasme masyarakat terhadap konsep nol sampah ini juga menginspirasi banyak anak-anak muda, mengingat merekalah yang kerap berinovasi sehingga ‘melahirkan’ banyak jenis sampah baru. Sejak 2013 seorang wanita berusia 29 tahun bernama Siska Nirmala menggagas aksi Ekspedisi Nol Sampah, atau biasa dikenal dengan Zero waste Adventure. Berawal dari mengikuti pelatihan zero waste oleh Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) di tahun 2010, hingga tahun 2015 Siska telah menamatkan 5 ekspedisi pendakian ke aneka gunung Indonesia. Misinya, mematahkan pendapat bahwa petualangan alam akan selalu meninggalkan sampah.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya zero waste sendiri dapat dibiasakan dengan mudah, bahkan menjadi sebuah gaya hidup. Memilah sampah menjadi beberapa jenis, berkreasi dengan variasi daur ulang, serta menghentikan penggunaan plastik saat berbelanja menjadi contoh yang dapat dilakukan semua orang. Semoga zero waste menjadi salah satu solusi agar bumi khususnya Indonesia menjadi lebih indah dan sehat.